Monday , 23 October 2017
desa pampang desa suku dayak di samarinda

Desa Pampang Desa Wisata Suku Dayak Di Samarinda

Mengunjungi pulau Kalimantan pasti mengingatkan kita dengan warga suku dayak. Namun saat sekarang jarang sekali kita dapat mengunjungi atau sekedar melihat bagaimanakah suku dayak sebenarnya. Bukan tidak ada namun banyak warga suku dayak yang sudah meninggalkan tradisi asli suku dayak tersebut. Jika kalian mengetahui sedikit ciri khas dari suku dayak ialah bertelinga panjang. Telinga tersebut panjang akibat menggunakan beban anting yang terbilang berat, semakin panjang dan berat maka semakin tinggi derajat dari warga suku dayak tersebut.

Setelah sekian lama diresmikan tepatnya tahun 1991 gue sendiri baru mengetahui bahwa di Kalimantan Timur tepatnya di Desa Pampang terdapat desa wisata warga suku dayak. Informasi tersebut baru gue ketahui sekitar awal tahun 2014 dari photo profile seorang teman yang kebetulan tinggal di Kota Samarinda. Karena penasaran dari tahun lalu akhirnya gue baru berkesempatan mengunjungi Desa Pampang beberapa hari lalu.

Seperti biasa gue menyiapin bekal perjalanan dari Kota Balikpapan, bersama dua orang sahabat gue mengunjungi Kota Samarinda pada jam 5 sore. Dari Balikpapan menuju Samarinda menghabiskan waktu tempuh kurang lebih selama 2 jam perjalanan. Di tengah perjalanan menuju Samarinda kalian bisa beristirahat di KM 54, dimana didaerah tersebut banyak sekali warung yang menjual makanan atau sekedar ngopi.

Sebelum melanjutkan membaca ada baiknya bagi kalian yang ingin mengunjungi Desa Pampang bermalam di Kota Samarinda agar stamina kalian tidak habis selama perjalanan.

Untuk menuju Kota Samarinda jika kalian menggunakan mobil rendah seperti jazz atau sejenis yaris, gue tidak merekomendasikan untuk melewati jalan stadion palaran samarinda. Gue sendiri yang terjebak melewati jalan tersebut terpaksa harus memutar balik akibat jalan rusak dan bolong cukup dalam.

Saat tiba di Kota Samarinda jam 7 malam dengan suasan rintik hujan gue mendapatkan tumpangan untuk bermalam disalah satu rumah agency model ternama di samarinda sebut saja wie Production. Wie sang owner dari Wie Production Samarinda sendiri mengatakan kepada gue, jika hujan rintik berlanjut hingga pagi hari gue dan kedua sahabat gue tidak bisa berangkat menuju pampang di pagi hari karena kota samarinda pasti banjir. Separah itu kah banjir di samarinda, ah sudahlah guepun akhirnya menghabiskan waktu dengan beristirahat.

Baca Juga :  Art Jog 2014 - Berkumpulnya Para Seniman Hebat

Tiba esok hari di hari minggu, cuaca yang terbilang cukup terang ternyata menyisakan banjir di kota samarinda. Gue awalnya tidak percaya begitu saja mengenai banjir di samarinda dan memaksakan untuk melanjutkan perjalanan menuju desa pampang ternyata malah terjebak banjir. Cukup banyak titik banjir disamarinda pada saat itu, yang membuat gue harus kembali memutar dan kembali ke rumah Wie.

Dengan sedikit jengkel akibat banjir dimana-mana, gue pun harus mengatur ulang jadwal perjalanan gue menuju desa pampang. Bagaimana tidak, acara di desa pampang hanya dilaksanakan seminggu sekali yaitu pada hari minggu jam 14.00 –  15.00. Jika rencana perjalanan menuju desa pampang hari ini gagal maka gue harus menunggu hingga minggu depan.

Dengan sedikit was-was akhirnya gue, wie dan kedua sahabat gue berangkat menuju desa pampang jam 13.00 dengan harapan dapat tiba di desa pampang jam 2 siang. Namun sayang beberapa rute perjalanan masih tergenang air yang cukup tinggi, sehingga kami harus mencari rute lainnya.

Untuk menuju desa pampang dari samarinda kalian bisa menyetting GPS handphone kalian menuju terminal lempake. Kemudian kalian dapat mengikuti jalan tersebut, awalnya disini gue sempat kesasar karena gue mengikuti lokasi yang diberikan oleh halaman facebook desa budaya pampang. Serius itu lokasi yang diberikan salah, kalian hanya perlu mengikuti jalan raya yang ada. Jika kalian liat gambar di bawah kalian hanya perlu mengikuti jalur warna kuning yang merupakan jalan utama / jalan raya.

peta salah desa budaya pampang
Peta yang salah dari facebook

Kurang lebih sekitar 10 KM dari terminal lempake, kalian akan tiba di gapura desa pampang. Disini gue ga sempat ngambil foto gapura tersebut. Dari gapura tersebut kalian harus menempuh perjalanan kurang lebih sejauh 5 KM hingga kalian kembali melihat sejenis aula besar.

aula desa budaya pampang samarinda

object wisata desa budaya pampang

acara kesenian desa budaya pampang

Seperti yang gue bilang sebelumnya, acara kesenian di lamin adat desa pampang hanya berlangsung pada hari minggu yaitu jam 2 siang hingga jam 3 siang. Namun sayang pada saat gue sampai jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Tidak ada pentas seni pada saat itu, namun masih terlihat beberapa warga suku dayak yang berada di depan lamin adat desa pampang yang bersiap menyambut tamu.

Baca Juga :  Melihat pembuatan video web series Aplikanologi

Karena saat itu gue udah telat datang, daripada tidak ada bahan sama sekali akhirnya gue foto bareng dengan anak-anak warga suku dayak desa pampang. Sebelum kalian berfoto dengan mereka sebaiknya kalian bertanya terlebih dahulu berapa biaya yang dikeluarkan untuk melakukan sekali foto. Saat itu untuk anak-anak warga suku dayak perorang dikenakan biaya Rp 50oo /photo. Jadi kalau kalian foto bareng seperti gue dengan 4 anak warga suku dayak berarti kalian harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 20000 /photo. Ingat per photo ! jadi kalau kalian photonya 2 kali yah 40 ribu.

Sebaiknya kalian menyiapkan pose / gaya yang benar sebelum melakukan photo, tidak perduli hasil photo kalian salah atau tidak. Benar atau salah hasil photo kalian tiap jepretan kamera kalian tetap dihitung.

Sebenarnya sayang sekali dengan metode yang diterapkan, dimana harga perphoto bervariasi. Jika kalian membaca artikel lainnya mungkin ada yang mengatakan mengeluarkan biaya photo hingga 75 ribu. Sangat disayangkan sebenarnya, mungkin pihak dinas pariwisata Samarinda bisa mengenakan biaya tiket masuk dimana sudah termasuk paket allin.

Disekitar tempat tersebut juga terdapat beberapa toko yang menjual segala aksesoris warga suku dayak. Mulai dari gelang-gelang, manik-manik, baju  hingga aksesoris bulu yang biasa digunakan pada saat tarian suku dayak.

aksesoris warga suku dayak desa pampang

Karena semua tujuan sudah tercapai, akhirnya kami ber lima memutuskan untuk balik menuju Kota Samarinda. Terimakasih buat wie dan andi yang sudah nemenin gue keliling serta ngopi-ngopi di Kota Samarinda.

About AnggiAlfonso

Blogger asal Balikpapan. Menyukai Pariwisata Indonesia.

Check Also

keindahan pesisir pantai pulau bokori kendari

Keindahan Pesisir Pantai Pulau Bokori Kendari

Kendari adalah Kota yang masih terbilang sepi, jika dibandingkan dengan Kota Batam perkembangan kotanya masih …

2 comments

  1. Baru tahu juga ada desa wisata dari tulisan ini Mas. Atau memang desa wisata Suku daya tidak hanya satu ya? Karena sub suku Dayak kan banyak jenisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: